news politik

Pilkada Damai, Nusantara Indah dan Self Determination

penulis: Admin | 14 November 2020 18:33 WIB
editor:


Oleh : Abdullah Sartono

Pegiat Sosial & Ketua Rumah Produktif Indonesia Sulawesi Barat

KejarFakta.co - Waktu, energi dan pikiran sehat kita hampir saja punah dengan permusuhan, kemarahan yang lepas kontrol dan konyol juga kebencian yang membabi buta. Barangkali ending_nya nanti, hanyalah sakit hati dan penyesalan yang tak berkesudahan. Berat hati untuk saling sapa dan kembali untuk membangun tali _ukhuwah yang makin terseok-seok, tradisi-tradisi positif dan adat ketimuran kita yang syarat dengan kekeluargaan juga penuh kehangatan.

Tuding menuding, membuat kesaksian palsu, saling mencurigai, menyebarkan hoax atau membuat berita palsu, saling serang menyerang baik melalui media sosial atau secara langsung dalam kehidupan sosial masyarakat terbuka. Berkata kotor dengan istilah-istilah modern yang kurang elok. Pertanyaannya apakah kita tetap nyaman dengan model peradaban demikian?

Determinasi sosial untuk bangkit bersama dan saling percaya antar anak negeri, yang memungkinkan kolaborasi bersama elemen bangsa adalah sebuah harapan baru untuk negeri yang penuh dengan kedamaian. Tepo seliro, ta'awun dan berkorban untuk nusantara yang berkemajuan adalah sebuah kepastian. Why not?

Semua anak negeri pasti punya mimpi gapai visinya untuk kebahagiaan dunia dan sukses abadi demi akhiratnya kelak. Tidur nyenyak makan terasa nikmat walau cukup dengan terasi dan sambal tomat. Yang terpenting tetap saling hormat walau bukan sesama tehnokrat. Kita sangat layak untuk saling memberikan khidmat bersama rakyat.

Pilkada adalah wadah demokrasi untuk memilih pemimpin terbaik, bukan kesempatan untuk menggunjing dan menghasut kawan yang berbeda nomor urut serta warna bendera. Bukan pula kesempatan untuk balas dendam dari sakit hati karena keberpihakan dan kepentingan politik masa lalu.

Pilkada yang damai mesti dimaknai sebagai pesta rakyat yang penuh dengan sukacita, menghadirkan kehangatan yang dirindukan dalam lima tahunan. Pada satu rumpun keluarga sebagai entitas bangsa yang berkasih sayang, humanis dan cinta perdamaian. Pilkada damai, demikian rakyatnya.

Peran tokoh dan kandidat pemimpin dalam perhelatan pilkada salah satunya adalah memberikan edukasi politik yang santun bagi rakyat dan pemilihnya. Untuk tetap menjaga kesantunan, keutuhan dan persatuan, juga tidak anarkis dalam merespon konflik pada perhelatan pilkada di masing-masing daerah.

Adanya prinsip negarawan dan self determination. Determinasi diri seorang tokoh politik dalam meyakinkan massanya untuk tidak membuat onar, menciptakan hate speech atau ujaran kebencian dalam pesta rakyat itu sangat diharapkan agar terciptanya tujuan demokrasi yang sehat dan mendatangkan maslahat bagi rakyat.

Calon pemimpin dan tokoh cukup yakinkan saja pada calon pemilih dan rakyatnya bahwa pemimpin yang baik itu lahir dari rakyat yang baik. Begitupun sebaliknya pemimpin yang kurang dihargai itu lahir dari rakyat yang kurang untuk saling menghargai. Ada kata hikmah yang mashur bahwa, "Sebagaimana keadaan kalian, begitulah keadaan pemimpin kalian". So, pemimpin kita hari ini adalah cerminan kita saat ini.

Yang kita harapkan sesungguhnya adalah takdir baik dan ridha Tuhan dalam kemenangan politik, bukan kemurkaan-Nya. Bukankah sang baginda berpesan “Jika Allah ridhoi suatu kaum, maka Ia akan mengangkat orang terbaik dari mereka sebagai pemimpin, dan jika Ia murkai suatu kaum, maka Ia akan mengangkat orang terjahat dari mereka sebagai pemimpin.” (HR. Turmudzi)

Kita percaya, orang baik adalah mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keutuhan dan persatuannya. Tidak mudah terpancing oleh hasutan, tidak gegabah, tak emosional, dan matang dalam menyikapi perbedaan serta mampu memahami kekhasan dari cara berpikir dan watak setiap kawan maupun rival politiknya.

Percayalah, orang baik adalah mereka yang menjunjung tinggi kesepakatan damai dan tidak saling menyerang. Kita percaya, bahwa orang baik adalah mereka yang menghargai setiap perbedaan, karena memang hidup ini orang harus berbeda dalam memilih. Itu fitrah kemanusiaan dan sunnatullah dalam kehidupan.

Saya sangat percaya bahwa orang baik itu mereka yang merangkul bukan memukul. Hindarilah dengan pukulan, karena sekali pukulan yang anda lakukan itu membekas dihati sepanjang hayatnya. Saya percaya bahwa orang baik adalah mereka yang mudah memaafkan walau sangat berat terasa olehnya cercaan dan hasutan yang dirasakan sebelumnya.

Keterbukaan informasi dan bebasnya orang berekspresi. Coba anda perhatikan betapa mudahnya kita disuguhkan dengan perubahan sosial warga net yang hampir saja lepas kendali. Dengan fenomena pada ruang publik yang syarat dengan ujaran kebencian, salah-menyalahkan, sesat-menyesatkan, bahkan sampai hati tidak lagi mengenal saudara sendiri, ia berkomentar dengan nada provokatif dan mengadu domba.

Persaingan dalam urusan politik dan kecemburuan sosial yang berlebihan, terkadang membuat orang kehilangan akal sehat, hingga berani untuk menikung kawannya dari belakang. Kita ini tidak sedang dalam perang besar dan bersenjata hingga menaruh dendam dan amarah bak ular berbisa, yang tak berkesudahan.

Kekompokan dan kolaboration itu jauh lebih berarti dari pada menabuh perang saat emosional dan darah sedang panas. Determinasi diri, matang dan kebesaran jiwa seorang calon pemimpin dalam perhelatan pilkada itu menjadi alasan kita menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang besar itu bangsa yang saling menghargai dan dihargai juga disegani oleh bangsa lain.

Kebesaran sebuah bangsa itu juga selalu tersambung dengan rakyat yang tsiqoh atau saling percaya. Rakyat yang memiliki kemerdekaan jiwa dan raga, penguasaan dan pengendalian diri yang kuat atas mimpi-mimpi kecemerlangan dan cita-besar yang ingin mereka raih, itu yang saya sebut sebagai self determination.

Rakyat dan politikus yang tersambung dengan mindset demikian, maka harapan akan pilkada yang damai itu akan mudah kita raih demi suksesnya demokrasi yang sehat. Jauh dari ghibah politik dan terciptanya keutuhan kita sebagai keluarga bangsa yang cinta damai. Dan satu yang pasti, kita akan dihargai oleh bangsa lain sebagai negeri yang damai nan elok. Seperti pengakuan seorang tokoh barat bahwa "Indonesia itu adalah surganya dunia".

Dengannya tekad kita menjadi kuat membaja. Semangat yang melampui usia dan mimpi yang besar itulah para pahlawan mengatakan tidak!!! pada penjajahan atas hak asasi dan martabatnya. Dengan semangat itulah mereka mampu mengumpulkan serpihan-serpihan potensi walau berserakan. Dengannya mereka mampu berjuang dengan jiwa raganya. Harta dan kehormatan dikorbankan untuk kemerdekaan pertiwi.

Kita sangat bisa menjadi bangsa yang berdikari, kuat dan mandiri bahkan berdiri diatas kaki sendiri. Menjadi pelopor dan pahlawan dunia yang disegani baik kawan maupun lawan. Karena sejarah telah memberikan kesaksian bahwa bangsa ini telah sukses melahirkan pahlawan hebat. Dan, bahwa raihan predikat pahlawan itu tetap menjadi peluang bagi putra dan putri bangsa termasuk saya kamu dan kita semuanya.

Kita hanya butuh keberanian untuk mendobrak keduangan cara berpikir masa lalu kita yang terlalu lebai, jumud dan serampangan. Mimpi kita terlalu kecil, semangat pun demikian. Padahal para pahlawan itu mimpi, visi dan semangatnya kuat, jauh melampui dari batas usianya. Saat ini kita hanya lebih asyik berdebat, suka mencaci maki dan saling menyalahkan antar kelompok dan anak bangsa.

Bahwa pilkada hanyalah rumah dan wadah demokrasi untuk menentukan pemimpin daerah yang akan berdiri bersama rakyat untuk membangun kampung halaman kita. Dan ruh dari self determination baik rakyat dan pemimpinnya itu sangat menentukan arah pembangunan kampung halaman  yang berkemajuan. Dan oleh karena awal proses pesta rakyat dengan pilkada yang kita lakukan itu sehat dan jauh dari muslihat, intervensi dan hasutan.

Nusantara ini memiliki sejarah besar, telah melahirkan para pahlawan heroik yang memotivasi anak negeri. Para ilmuan yang cerdas juga menjadi alasan kita untuk bangkit menjadi bangsa yang cerdas. Imperium akbar yang berwibawa dan peradaban besar dunia yang disegani.

Walau pahlawan bangsa yang telah menggoreskan sejarah besar negeri, bukanlah mereka yang lahir dari orang-orang besar dan hebat. Namun karena visi, mimpi dan tekadnya yang kuat terus menghujam dalam sanubarinya, sehingga mereka mampu bangkit untuk berkobar. Dengan pekikan takbir, Allahu Akbar!. Merdeka atau mati!

Setiap tokoh dan pahlawan punya perjalanan masa lalu yang ragam, punya sejarah perjuangan dari keterasingan dan keterbelakangannya. Mereka pernah sakit, pernah hidup susah juga pernah menangis. Mendapatkan ujian, rintangan dan terpaan hidup yang berat dan keras dari keluarga, masyarakat juga lingkungannya, tempat dimana mereka meneruskan kehidupannya.

Karena kerasnya ujian itulah, dapat membentuk jiwa dan sikapnya sebagai orang yang kuat dalam menata masa depannya yang gemilang juga bermanfaat bagi keberlangsungan usia generasinya. Mereka menjadi pahlawan karena mereka mampu bergulat melampui batas-batas kemampuan mereka. Dan semuanya hanya untuk memberikan yang terbaik dan manfaat yang besar bagi orang banyak dan untuk pertanggungjawaban sejarahnya.

Nusantara indah dengan hiasan pantai cantik menawan hati bagi setiap pandangan mata yang memandangnya. Nusantara dengan gugusan pulau cantik yang dapat memikat hati insan dunia. Semoga saja gugusan dari pulau-pulau indah ini berubah menjadi untaian kalung-kalung permata zamrud di katulistiwa, membahana di alam bebas dan membuat simpati bagi umat dunia.

Sebagai pelipur lara dan dapat menghibur kita semua dari setiap irisan sejarah, tangisan dan iring-iringan perjuangan. Menjadi oase dan mutiara indah di padang pasir dalam catatan sejarah anak cucu dan generasi abad terakhir. Juga untuk episode dan peralihan kebangkitan sejarah dan peradaban kita yang besar nantinya. Insya Allah.

Merdeka!!!

 

Tag :

#Rumah Produktif Indonesia #Pilkada Damai #Self Determination