lifestyle kesehatan

Kontribusi Gerakan Mahasiswa dalam Masa Covid-19

penulis: Admin | 6 April 2020 21:49 WIB
editor:


Yanuardi Syukur, Antropolog, Founder Rumah Produktif Indonesia.
Yanuardi Syukur, Antropolog, Founder Rumah Produktif Indonesia.

Oleh : Yanuardi Syukur

KejarFakta.co - Wabah covid-19 bukan hanya ekslusif harus dilihat dari pendekatan kesehatan. Akan tetapi, semua aspek dapat melihatnya, bahkan mencarikan solusinya; pemerintah, ilmuwan, aktivis, tokoh komunitas, gerakan mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Dampak outbreak covid-19 ini sangat luas. Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 2020 tentang "Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka Percepatan Penangan Covid-19", misalnya menulis bahwa dampak virus ini masuk pada aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, serta kesejahteraan masyarakat. Diksi yang ada dalam PP ini tentu saja tidak asal tulis, tapi ditulis setelah melewati berbagai analisis.

Artinya, wabah ini harus ditangani multiaspek. Gerakan mahasiswa sebagai agen kontrol sosial dan agen perubahan, tentu saja harus mengontrol masyarakat agar tetap dalam koridor tatanan sosial, atau dalam arti lain harus mengontrol agar pemerintah tidak salah langkah dalam menjalankan roda pemerintahan. Ada juga yang menambahkan mahasiswa sebagai agen pengarah perubahan. Apapun jenis keagenan itu, pada intinya mahasiswa harus tetap dinamis dalam semua fenomena yang berdampak luas pada masyarakat.

Pilihan Kontribusi

Gerakan mahasiswa terdiri dari cendekiawan muda (atau sebutlah calon cendekiawan) yang meniti karier dalam berbagai bidang. Ada yang kelak fokus di bidang keilmuan, menjadi saintis/ilmuwan, ada juga yang "loncat pagar" menjadi politisi, atau jadi pengusaha. Semua jenis pekerjaan yang mereka dapat lakukan di masa depan tentu saja sangat ditentukan oleh minat dan peluang yang datang atau yang mereka mendekat padanya.

Dalam konteks covid-19, gerakan mahasiswa dapat membuat gugus tugas yang mengawal penanganan covid-19. Saya lihat KAMMI misalnya sudah ada inisiatif untuk itu. Langkah ini sangat baik agar mahasiswa tidak hanya dikenal sebagai "jagoan jalanan", demonstran, tanpa ide-ide dan langkah cerdas untuk menjadi solusi di tengah krisis yang terjadi di masyarakat. Inisiatif seperti itu sangat baik untuk dilanjutkan dalam berbagai kepakaran dan peminatan masing-masing.

Penggalangan dana juga sangat baik mereka lakukan--secara online. Saat ini, di masa social atau phisycal distancing, kita memang diminta untuk lebih banyak berdiam di rumah agar penyebaran virus dapat terkurangi. Di masa kayak begini penggalangan dana cukup bagus dilakukan yang dapat disalurkan untuk keluarga yang terdampak sehingga kepala keluarganya tidak bisa bekerja, atau mereka yang sangat membutuhkan di sekitar kita.

Masing-masing cabang gerakan dapat membuat list siapa saja dari tetangga mereka yang harus dibantu. Uang memang cepat sekali habis, tapi semangat untuk saling-bantu ini merupakan modal sosial yang dampaknya bertahan lama. Ini juga sekaligus menjadi karakter manusia Indonesia yang senang bersosialisasi, senang membantu, gotong-goyong, dan mencermirkan "persatuan Indonesia."

Tentu saja menjaga jarak dalam penyaluran bantuan harus tetap diperhatikan agar para relawan gerakan mahasiswa juga tetap sehat dalam kontribusi mereka kepada masyarakat. Indonesia sangat kaya dengan pengalaman mahasiswa yang membantu sebangsa dan setanah air di tengah kesulitan seperti tsunami, gempa bumi, banjir, hingga kerusuhan sosial yang melanda di beberapa daerah.

Produksi Gagasan

Sebagai insan terdidik, mahasiswa juga dituntut untuk bisa menelurkan gagasan cerdas sebagai solusi bagi masalah covid-19 dari berbagai sudut keilmuan mereka. Tentu kita tidak harus tahu seutuhnya tentang virus ini apa nama ilmiahnya dan sebagainya, tapi pengetahuan dasar kita tentang penyebaran virus dan dampaknya yang dapat merusak tatatan patut untuk dikaji.

Mahasiswa antropologi misalnya, dapat membaca tulisan beberapa peneliti "antropologi virus" sepeti Carlo Caduff tentang "ramalan pandemi dari saintis" (2014), Celia Lowe tentang "kedaulatan atas virus" (2019), Christos Lynteris tentang "epidemiolog sebagai pahlawan kebudayaan" (2015), dan Andrew Lakoff tentang "ketidaksiapan negara dalam masa darurat kesehatan global" (2017). Beberapa bahan tersebut dapat dikaji untuk mengenal lebih jauh bagaimana kajian antropologi tentang virus.

Selain itu, membaca kebijakan pemerintah juga penting sekali agar dapat sumber asli di balik berita yang kita konsumsi di media. Undang-Undang Nomor 6 tahun 2018 Kekarantinaan Kesehatan, Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bahaya, dan yang terbaru Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.

Membaca Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan pandemi Covid-19 dan/atau dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan juga bagus sekali untuk melihat dari sisi ekonomi. Perdebatan soal darurat sipil yang mungkin diambil jika PSBB tidak cukup bagus sekali merujuk pada Perppu Nomor 23 tahun 1959 yang beberapa pasalnya dianggap sudah tidak relevan.

Olah gagasan sangat perlu dibudayakan dalam gerakan mahasiswa. Harus menjadi kultur, menjadi darah daging dalam pikiran dan tindakan mereka. Membaca buku menjadi habit paling penting yang harus dijaga selain berdiskusi yang cerdas, tidak asal bunyi (asbun), dan semaksimal mungkin juga bertanya sesuatu yang strategis dan bermakna.

Sudah saatnya gerakan mahasiswa di masa krisis wabah seperti sekarang untuk memproduksi gagasan kreatif dan cerdas mereka yang dibagikan di media cetak atau minimal media sosial. Paling tidak, mereka harus membiasakan membaca bacaan berkualitas tiap pagi, merenungkannya hingga siang dan menuliskannya pada sore hari saat mereka berada di rumah masing-masing.(*)

Antropolog, Founder Rumah Produktif Indonesia.

Tag :

#Covid-19 #Founder Rumah Produktif Indonesia