lainnya lipsus

ASHBT : Bank Of China, Stop Funding PLTA Batang Toru Medan

penulis: Admin | 9 July 2019 18:13 WIB
editor:


Aliansi Selamatkan Hutan Batang Toru (ASHBT) melakukan Aksi Kampanye Lingkungan, di depan Konsulat Jenderal Tiongkok (Konjen) di Jalan Walikota, Medan, (Selasa 9/7/19). Foto : Cing Siregar
Aliansi Selamatkan Hutan Batang Toru (ASHBT) melakukan Aksi Kampanye Lingkungan, di depan Konsulat Jenderal Tiongkok (Konjen) di Jalan Walikota, Medan, (Selasa 9/7/19). Foto : Cing Siregar

Medan, Kejarfakta.co -- Belasan massa yang menamanakan diri Aliansi Selamatkan Hutan Batang Toru (ASHBT), melakukan Aksi Kampanye Lingkungan, di depan Kantor Konsulat Jendral (Konjen) Tiongkok, Jalan Walikota, Medan, Selasa (9/7/19).

Kedatangan mereka, menyampaikan kepedulian terhadap Hutan Batang Toru yang harus di selamatkan dari berbagai ancaman kejahatan dan kerusakan lingkungan oleh korporasi.

Dalam orasinya, massa yang di Koordinatori oleh Sarif M. Musannif Nasution mengatakan, bahwa seluruh elemen masyarakat dan pemerintah harus bersama-sama menyelamatkan lingkungan khususnya hutan sebagai paru-paru dunia.

“Salah satunya kita harus menjaga dan menyelamatkan ekosistem Batang Toru yang merupakan Hamparan Hutan Primer dengan luas 1.400 km persegi diperbatasan Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah,  dan Tapanuli Selatan. Lebih dari 100.000 jiwa menggantungkan kehidupannya pada hutan tersebut. Di hulu sungai Batang Toru terdapat sekitar 1.200 Ha lahan pertanian Produktif milik masyarakat dan masyarakat adat,” ujar Sarif

Seperti diketahui, Hutan Batang Toru juga merupakan habitat Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) dengan populasi kurang dari 800 ekor, Rangkong Badak dan Hewan Langka yang di lindungi menurut UU Konservasi No. 5 Tahun 1990 tentang keanekaragaman Biodiversiti, Dikawasan tersebut sedang dibangun mega proyek yang didanai oleh Bank of China, PLTA berkapasitas 510 MW.

“Lokasi pembangunan Proyek PLTA Batangtoru yang didanai oleh Bank of China ini berada dalam garis patahan gempa yang kami khawatirkan pembangunannya menjadi bom waktu dan bencana khususnya bagi masyarakat hilir PLTA,” tutur Sarif

Massa yang mengaku berasal dari Tapanuli Selatan dan Padang Sidempuan tersebut juga terlihat membawa poster-poster yang berisi tulisan penolakan terhadap Pembangunan PLTA Batang Toru dan meminta Bank of China melalui Konjen China agar menghentikan pendanaan pembangunan tersebut. Dari mulai pukul 13.30 WIB Secara bergantian massa terlihat menyampaikan kritik mereka di depan Konjen China.

Sementara Rony Ya’cub Azhari pada orasinya mengatakan, hutan Batang Toru memiliki kekayaan alam yang berlimpah dan merupakan harta karun Provinsi Sumatera Utara, maka dari pada itu, penolakan terhadap perusahaan perusak lingkungan harus di lawan, salah satunya Pembangunan PLTA Batang Toru yang berdampak buruk terhadap keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat, maka pemerintah harus berani mengambil sikap yang tegas untuk segera hentikan Perusahaan perusak lingkungan.

Aliansi Selamatkan Hutan Batang Toru (ASHBT) melakukan Aksi Kampanye Lingkungan, di depan Konsulat Jenderal Tiongkok (Konjen) di Jalan Walikota, Medan, (Selasa 9/7/19). Foto : Cing Siregar

Selain dari keberadaan Orangutan Tapanuli, beberapa hal yang menjadi alasan penolakan Pembangunan PLTA Batang Toru adalah:

1. PLTA Batang Toru masuk zona rawan gempa. PLTA Batang Toru tidak jauh dari Jalan Batu Jomba yang terkenal rawan. Jalan Batu Jomba tidak pernah bagus karena selalu terjadi pergerakan tanah, penurunan badan jalan sekitar 5 cm/hari.

2. Bendungan akan mengumpulkan air sebanyak 3,5 Juta m3. Di zona rawan pergerakan tanah, diatasnya dikumpulkan beban tambahan 3,5 Juta m3 air.

3. PLTA Batang Toru dibangun tanpa analisis risiko bencana. PT. NSHE dan Pemerintah Daerah Kab. Tapanuli Selatan tidak pernah menyampaikan kepada masyarakat apa yang akan terjadi jika datang bencana. Apa yang akan terjadi jika bendungan pecah dan air 3,5 Juta m3 meluber. Dihilir, ada ribuan jiwa yang bermukim di pinggir sungai.

4. PLTA Batang Toru akan beroperasi pada saat kebutuhan listrik memuncak di Sumatera Utara, dari sore sampai tengah malam. Sungai akan dibendungan dari tengah malam sampai sore hari, akibatnya volume sungai akan berkurang, dan bendungan akan dibuka dari sore hari hingga tengah malam yang akan menyebabkan peningkatan volume sungai.  PT. NSHE dan Pemda Tapsel juga tidak menyampaikan hal ini kepada masyarakat. Bagaimana nasib petani kedepan? Bagaimana pula nasib nelayan dihilir? Tidak pernah disampaikan.

5. Dokumen AMDAL PT. NSHE tidak menjelaskan secara spesifik langkah mitigasi kemungkinan gempa. Tanda tangan seorang ahli dalam dokumen AMDAL tersebut dipalsukan. Berarti ada yang salah dalam penyusunannya.

“Berdasarkan hal tersebut, kami dari Aliansi Selamatkan Hutan Batang Toru mengajak seluruh elemen masyarakat agar bersama-sama menolak Pembangunan PLTA Batang Toru, meminta Bank of China agar menghentikan pendanaan pembangunan PLTA Batang Toru, serta meminta Pemerintah agar mencabut Ijin Lingkungan PT. NSHE. Sebelum terjadi bencana, sebelum berjatuhan korban jiwa. Sekali lagi, kami memita kepada Bank of China agar menghentikan pendanaan pembangunan PLTA Batang Toru,” tutup Rony.

Aksi tersebut berjalan damai meskipun tidak mendapat tanggapan dari Konsulat Jenderal Tiongkok, sampai pada pukul 15.00 WIB massa membubarkan diri dengan tertib. (Cing Siregar)

Tag :

#ASHBT #Proyek PLTA Batangtoru #Orangutan Tapanuli #Hulu sungai Batang Toru