lainnya inspiring

Nyawa Koran di Era "Online"

penulis: Admin | 7 December 2020 10:36 WIB
editor:


Ilustrasi Net
Ilustrasi Net

Oleh : Septiawan Santana K
Dekan Fikom UNISBA

KejarFakta.co - WIBAWA koran kini mulai susut. Padahal dahula, koran dianggap perkasa. Ada yang bilang, ini gara-gara koran tak bisa mengendalikan tiga elemen penting dalam dirinya, yakni brand, trust, dan content. Dunia surat kabar kini, setelah di-blending sekian lama oleh konvergensi me- dia, tak lagi bisa mengandalkan perspektif tradisional bahwa jatuh bangun koran ditentukan oleh dua hal: akurasi dan berita.

Sebab, dunia surat kabar kini tidak gagah lagi sendirian, hanya mengandalkan mesin cetak, bergerak menyambangi khalayak. Orang sudah mendapatkan mainan baru, teknologi baru, digitalisasi, dan internet. Lewat sebuah telefon, misalnya, berbagai informasi tampil, cukup dengan mengklik. Dunia media sosial pun masuk ke urusan berita. Orang saling kirim apa yang viral hari ini. Orang berusaha jadi pembawa berita. Apakah yang di share itu dinamakan berita, memiliki akurasi, bisa dipercaya, dan berbagai tanda tanya lain, tak lagi penting.

Mengedukasi

Dari kondisi macam itu, surat kabar kini harus hadir. Membawa jurnalisme sebagai mesin pengolah informasi. Surat kabar hadir mengedukasi. Untuk itu, surat kabar harus memiliki branding.

Keberhasilan surat kabar Guardian, Telegraph, Sun, Mail, ketika mengon- line-kan diri, contohnya. Berbagai koran ini dinilai berhasil mengolah "merek" koran mereka. Khalayak mereka yang tumbuh perlahan, merubung kembali berita-berita mereka, karena hasil reputasi dan profil "cetakan" surat kabar mereka yang dikembangkan, dilanjutkan dalam situs web mereka. Mutu berita mereka tidak luntur, tetap terjaga. Merek koran cetak mereka juga tetap terjaga. Produk berita online mereka tetap membawa harum produk cetak mereka. Gejala berhubungan dengan hal kedua, yang harus dimiliki surat kabar: trusted brand. Mereka tetap mampu menjaga kepercayaan masyarakat.

Ketika dunia situs web bebas menggratiskan ruang, khalayak sebenarnya sedang mencari-cari sumber berita mana yang dinilai oke. Pilihan khalayak ini akan bergantung pada para penulis dan pengelola surat kabar, branded yang telah di lakukan surat kabar selama ini, penghargaan atas keandalan surat kabar, agenda, jangkauan dan akurasi surat kabar, atau kepercayaan yang telah ditanamkan selama ini.

Hal ini berbeda dengan urusan hoaks. Peredaran informasi hoaks punya gejala lain. Ini bukan urusan benar atau tidak. Hal ini menyangkut obrolan gosip atau warung kopi, yang bepindah tempat. Orang tidak lagi kongko-kongko, berkumpul hanya di warung kopi atau balai kota di abad ke-18. Orang kini selain kumpul di kafe, mal, dan semacamnya, juga butuh ngobrol nga- lor-ngidul di ruang "layar" maya.

Mereka merasa memiliki jangkauan obrolan yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Obrolan mereka pun tak perlu soal kebenaran atau tidak. Yang penting asyik. Untuk itu, kini, penjelasan- nya tertuju pada hal ketiga, yang harus dimiliki surat kabar: konten. Isi surat kabar bukan sekadar mendulang ik- lan atau clickbait. Pengelola situs surat kabar berita bukan

hanya jadi pengelola perusa- haan media. Pengelola surat kabar berita harus berada dan bersikap sebagai penge- lola penerbitan surat kabar, newspaper publishers.

Nyawa

Media companies berbeda dengan newspaper publish- ers. Penerbitan surat kabar bekerja berdasarkan nilai dan kaidah jurnalisme.

Penerbitan surat kabar mengumpulkan sejumlah in- formasi dengan melakukan reportase, liputan ke lapang- an, mencari fakta, dan menuliskannya ke dalam peristiwa berita. Sebagai penyampai infor- masi, penerbitan surat kabar memiliki visi dan misi untuk menjaga keberlangsungan perikehidupan berbangsa dan bernegara dan bertanah air. Pada sisi inilah, jurnal- isme menjadi nyawa surat kabar.

Sementara media ialah perusahaan yang hanya jadi penyedia infor- masi. Berbagai informasi disediakan tanpa dicek, di- klarifikasi, dan dikonfirmasi. Ketika satu informasi di- dengar dan dibaca, perusaha- an media hanya bertugas un- tuk menge-share tanpa peduli informasi itu baru sepotong. Bahkan kalau bisa jadi berba- gai posting-an. Informasi perusahaan

macam ini berbeda dengan berita. Informasi seperti ini bukan peristiwa berita. Kesadaran media adalah mendulang ba- nyak informasi dengan biaya relatif kecil. Pokoknya, yang memungkinkan mempubli- kasikan lebih banyak secara online. Bagaimana meng- hasilkan uang dari platform media mereka. Salahkah? Tidak. Sebab, sekali lagi, mereka bekerja sebagai perusahaan yang melayani kebutuhan kon- sumen akan informasi. Kha- layak konsumen mereka me- mang ini yang diperebutkan.

Hal ini pula yang jadi target me- dia mereka sebagai perusa- haan. Maka itulah, nyawa surat kabar di masa orang hidup dalam kepompong online dan digital kini tampaknya tak susut ditawur waktu, yakni: jurnalisme. Dan jur- nalisme koran di era online kini harus bisa menjaga brand, trust, dan content. Ketiganya mengolah surat kabar (online ataupun of- fline) tetap hidup, mengikuti kepentingan masyarakat dan khalayak, tekanan dan agen- da berita, organisasi peng- umpulan berita yang baru, kekhawatiran tentang stan- dar informasi, dan sete- rusnya. Semoga. ***

Tag :

#Media Cetak #Media Online