lainnya inspiring

Partisipasi Pemuda Dalam Kontestasi Elektoraldi Negeri Sai Batin dan Para Ulama

penulis: Admin | 8 October 2020 09:43 WIB
editor:


Oleh: Irfan Fikri

Ketua Umum Persatuan Pemuda Pelajar marga Ngaras Kabupaten Pesisir Barat Dewan Pembina Himpunan mahasiswa Pemuda Pesisir Barat (2018-2019)


Pesisir Barat, KejarFakta.co - Pada 9 Desember 2020 mendatang. Negara kita akan menggelar Pemungutan suara pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di 270 wilayah seluruh indonesia, tak terkecuali di provinsi lampung yang akan menggelar pemilihan walikota dan wakil walikota serta bupati dan wakil bupati di 8 kabupaten/kota yang juga akan diikuti oleh kabupaten paling bungsu di lampung yaitu Kabupaten Pesisir Barat.

Pemilihan kepala daerah ini diharapkan menjadi sarana demokrasi lokal yang dapat melahirkan pemimpin terbaik guna mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan umat. Dalam moment ini irfan mengatakan kaum muda diharapkan menjadi elemen penting dalam kontestasi elektoral tersebut

Irfan melanjutkan salah satunya kaum muda dapat berpartisipasi aktif mengawal semua tahapan pilkada di Pesisir Barat yang akan menggelar pesta demokrasi yang ke dua kalinya 09 Desember 2020 mendatang, mulai dari tahapan yang dilaksanakan KPU dan bawaslu seperti proses pemutakhiran daftar pemilih yang saat in on going , proses kampanye nantinya, serta pemungutan dan penghitungan suara. Pemuda harus mengawal betul proses tersebut dimana penyelenggara harus menjalankan tahapan tersebut secara prima berdasarkan prinsip demokrasi yang free and fairnes.

Dalam proses pemutakhiran daftar pemilih yang sekarang sedang dalam tahapan. Hasil coklit ditetapkan menjadi daftar pemilih sementara (DPS) partisipasi pemuda daerah sangat penting juga menentukan akurat dan tidaknya daftar pemilih. Karena semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat makin besar pula potensi menghasilkan daftar pemilih berkualitas

Tidak harus secara individu, partisipasi pemuda masih bisa dengan cara berkoordinasi dengan organisasi kepemudaan yang ada di pesisir barat seperti HMPPB untuk tingkatan kabupaten serta OKP di setiap kecamatan seperti P3MN di ngaras, PMPS di selatan dan masih banyak lagi. Partisipasi dalam tahapan ini bisa dalam bentuk melaporkan langsung ke PPS atau KPU kabupaten/kota jika terdapat pemilih yang meninggal, TNI/POLRI atau mungkin ada pemilih yang telah memenuhi syarat tapi belum terdaftar dalam daftar pemilih. Saya rasa KPU dan bawaslu pesisir barat akan antusias menyambut kegiatan positif seperti ini.

Kedua, dalam tahapan pencalonan, pemuda harus mampu memainkan peran sebagai educated man dalam rangka memberikan pandangan perspektif positip menghadirkan calon kepala daerah yang kompeten, visioner dan berintegritas.

Lalu di tahapan kampanye nantinya, jika dilaksanakan secara virtual maka peran pemuda harus memberikan pemahaman tentang penggunaan tekhnologi agar masyarakat dapat menyaksikan kampanye yang mungkin hanya akan terjadi saat pandemi covid-19 seperti ini serta pada tahapan ini pemuda harus ikut berpartisipasi dalam rangka memberikan pendidikan politik kepada masyarakat mengenai pentingnya memilih calon kepala daerah yang baik, tidak semata mata soal jani-janji manis kampanye, tetapi soal komitmen dan keperdulian serta niat pengabdian untuk membangun kemajuan di daerah masing- masing demi Pesisir Barat yang lebih baik lagi.

Dan yang terakhir, dalam tahapan pemungutan suara dan penghitungan suara. Pemuda harus ikut berpartisipasi aktif dalam memberikan suaranya di TPS. Jumlah kaum muda dengan rentan usia 17-30 tahun diperkirakan mencapai angka sekitar 33.877.029 orang atau setara 3% dari

105.865.716 pemilih sementara dalam pilkada 09 desember 2020. Jumlah tersebut tentunya sangat mempengaruhi terpilihnya figur kepala daerah yang berkualitas.

Setelah semua peran tersebut dijalankan dengan baik. Maka tugas akhir pemuda adalah mengawasi kinerja kepala daerah terpilih nantinya.Pemuda harus mampu mengawal sekaligus menjadi kontrol atas semua kebijakan. mengingatkan tatkala janji manis kampanye tidak ditepati.”menegur” jika program kerja yang disusun tidak dijalankan. “menjewer” jika pola kepemimpinanannya keluar dari jalur ketentuan hukum dan harus mendukung serta mengawal sampai sukses jika kebijakan berpihak kepada kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Sayangnya yang masih menjadi PR bersama adalah banyak pemuda (termasuk masyarakat) yang apatis karena masih memaknai politik itu kotor, korupsi dan masih terjadi abuse of power yang dilakukan elite politik dan pemimpin daerah yang menjadi alasan menguatnya apatisme masyarakat termasuk pemuda. Harus diakui praktik tersebut masih dipertontonkan. Hal itu karena politik masih dimaknai semata mata who gest what, when and how bukan sebagai arena pengabdian dan ajang perjuangan mencapai kesejahteraan serta kepentingan masyarakat. Seperti kata Gus dur bahwa politik itu mulai karena memperjuangkan kepentingan orang banyak.

Irfan menambahkan kaum muda tidak hanya jadi penikmat sejarah, melainkan juga harus menjadi pelaku sejarah dimana kaum muda dapat mengambil peran penting dalam kontestasi pilkada 2020 mendatang di pesisir barat. dengan menjadi peserta kontestasi misalnya, kenapa tidak mungkin bukankah jika kita berkaca pada negara tetangga “malaysia” bagaiman peran pemuda di negara tersebut sangat sentral dan mengambil peranan penting dalam kemajuan daerah serta negaranya, sebut saja syed shaddiq yang dipercaya memegang posisi kementrian pemuda dan olahraga saat baru menginjak usia 25 tahun. Lebih jauh lagi dalam skala global, DNA pendobrak kaum muda ternyata sudah menjadi terobosan dalam struktur pemerintahan seperti menteri urusan luar negeri austria yang berusia 27 tahun. Dan yang tidak kalah fenomenal lagi seorang perempuan bernama shamma al mazrui dari negara federasi UEA mengemban amanah pejabat menteri pemuda pada usia 22 tahun !

Jika telah sedemikian banyaknya estafet kepemimpinan serta pengaruh kaum muda, mengapa kita enggan mengadopsi hal positif tersebut dikampung halaman. apalagi jika hanya sekedar berpartisipasi dalam ajang 5 tahunan tersebut. Begitu tidak profesionalkah kaum muda dalam memajukan daerah ? ataukah generasi senior yang takut kehilangan “Bahan Gorengan”

Irfan mengajak kaum muda jika tidak mendapatkan amanah dari masyarakat menjadi bupati atau walikota. Kita harus menjalankan fungsinya untuk kemajuan daerah dimana pesisir barat masih sangat membutuhkan peran pemuda untuk mendukung kemajuan segala sektor, sebut saja sektor pariwisata yang menjadi unggulan kita. Peran pemuda sangat dibutuhkan untuk mendukung program promosi pariwisata pesisir barat yang telah mendunia tersebut. Dan untuk kepala daerah terpilih nantinya maka berikanlah kesempatan bagi kaum muda dalam jabatan strategis di struktur pemerintahan, BUMD, dan jabatan lainnya agar lebih memahami psikologi kaum muda yang kini sangat berbeda akibat gelombang inovasi teknologi.

Cara berfikir dan budaya pun tentu memiliki tantangan tersendiri. Dibutuhkan figur dengan profil yang hidup di era yang sama, sehingga nantinya pemecahan dan pengelolaan permasalahan lebih selaras dan efektif , pungkas irfan. (*)

 

Tag :

#Negeri Sai Batin dan Para Ulama