lainnya inspiring

Perempuan Indonesia Adalah Figur yang Kuat. Anda Tidak Sendirian, Bacalah Ini. Kita Bisa Jika Bersama!

penulis: Admin | 5 October 2020 17:47 WIB
editor:


Oleh : Sarah Fadhila Siregar (Kader HMI FKM UIN-SU Medan)

KejarFakta.co - “Perempuan dan laki-laki sama-sama berperan, kita sebagai subjek peradaban.
Kita sama-sama ikut andil dalam memajukan bangsa ini. Jangan lagi berasumsi bahwa ini
masalah perempuan jadi biarlah perempuan yang menyelesaikannya.”

Ideologi-ideologi yang muncul tentang perempuan kerap sekali menyudutkan perempuan. Ideologi tentang perempuan itu lemah dan isu-isu keperempuanan yang membuat perempuan akhirnya dikesampingkan. Pandangan yang seperti itu harus diperbaiki agar perspektif dan perlakuan masyarakat terhadap perempuan juga berubah.

Saat berbicara tentang perempuan, teringat kita pada sosok perempuan hebat di Indonesia yaitu Dewi Sartika dan RA Kartini memperjuangan emansipasi hak perempuan terhadap akses pendidikan. Buah perjuangan mereka dapat kita rasakan saat ini. Kaum perempuan sekarang punya akses luas terhadap pendidikan, dari dasar hingga universitas. Ternyata masalah perempuan belum kian selesai, perempuan masih mengalami kekerasan ataupun pelecehan di dunia pendidikan.

Satu demi satu, gema isu kekerasan seksual di sejumlah kampus menyeruak ke tengah publik. Mengkhawatirkan, miris, bahkan membuat geram, kasus-kasus tersebut tak jarang berujung protes yang menuntut ketegasan pihak instituti pendidikan. Ketimpangan gender masih menjadi hal yang umum, kasus kekerasan seksual di kampus pun menjadi fenomena yang terus berulang tanpa keseriusan untuk menyelesaikan kasusnya maupun mencegah kejadian serupa terulang.

Tidak ada satu lembaga pun yang memiliki data akurat tentang jumlah kasus kekerasan seksual yang terjadi di kampus-kampus di Indonesia. Informasi tentang kasus pelecehan seksual di perguruan tinggi menyebar secara sporadis, muncul saat kasus itu menjadi sorotan media, atau mencuat dari sejumlah testimoni lewat blog-blog pribadi, dengan kerahasiaan yang rapat. Sebagaimana yang terlihat hanyalah puncak dari gunung es, tak semua korban kasus pelecehan atau kekerasan seksual di Indonesia berani melaporkan kejadian yang dialaminya. Dalam kasus di lingkungan perguruan tinggi, tak semua korban punya kuasa mengumpulkan tekad untuk melaporkan ke pihak kampus, ke polisi, ke lembaga mitra Komnas Perempuan, atau ke lembaga pendampingan korban kekerasan seksual.

Korban pelecehan atau kekerasan seksual tidak berani angkat bicara melaporkan apa yang dirasakannya ke penegak hukum. Apalagi diranah kampus, dimana ketika perempuan bersuara bahwa dia menjadi korban pelecehan, alih-alih mereka malah mengekspos korbannya, melontarkan stigma yang membuat mentalnya semakin down. Dalam hal ini yang patut di salahkan adalah pelakunya, yang harus dibahas adalah pelakunya. Inilah alasan mengapa para korban pelecehan bungkam yang harus terpaksa kalah dalam berbagai situasi. Mengutip dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang, RA Kartini “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri”. Dapat kita maknai sikap menjadi bagian penting dan harus diutamakan sebagai makhluk sosial. Tanamkan empati pada diri, jangan sampai miskin etika dan hilang rasa kemanusiaan.

Para puan harus menguatkan yang lain agar mau terbuka dengan masalah yang di alaminya. Jangan sampai kita sesama perempuan saling menjatuhkan, perempuan hebat adalah yang mampu menguatkan perempuan lain bukan saling mematahkan. Mari menjadi teman bernarasi untuknya, agar mudah kita mengadvokasikan masalah ini dengan mencari keadilan, ini harus diusut tuntas kalau tidak, akan semakin banyak yang menjadi korbannya.

Mencoba menaklukkan ketakutannya akan hidup, perempuan membiarkan dirinya berperang melawan isi kepalanya, menyusuri hari dengan perasaan was-was. Mungkin ini yang dinamakan teriakan paling sunyi dari hati seorang perempuan. Ingin berbicara tetapi tidak tahu pada siapa, ingin bercerita takut akan dijauhi teman, hanya jeritan lara beserta isak tangis yang mampu meredam sesaat. Suarakan yang ingin engkau bicarakan, jangan lagi menjadi perempuan pasrah, kita perempuan bukan makhluk yang lemah, bagaimana mungkin kesetaraan tercipta jika kita sendiri masih merasa jenis kelamin kita sebagai sebuah kelemahan. Rasa inferior ini tak jarang membuat kita terlena dan merasa bahwa kita adalah makhluk yang tak berdaya dalam melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa kita lakukan.

Akar permasalahannya yaitu ketidaksetaraan gender. Seharusnya fokus dari upaya apapun untuk mengakhiri kekerasan seksual adalah para pelaku, bukan korban perempuan ataupun calon korban. Jangan lagi lakukan apapun yang menyudutkan para korban, jangan membuat para korban semakin tertekan karena dia sudah berani berbicara, maka usut tuntas pelakunya. Puan kalian mulia, bagaimanapun masalalumu dan bagaimana nanti masa depanmu kalian tetap mulia dan berharga. Jangan lagi melabeli perempuan, jangan lagi mendiktekan berbagai syarat dan ketentuan terhadap perempuan.

Menyusul kasus-kasus kekerasan seksual di sejumlah Universitas yang muncul ke public, kita perlu mendorong semua lembaga pendidikan tinggi memiliki SOP untuk kekerasan seksual sebagai syarat akreditasi kampus. Mari kita ambil peran, mari berikan semangat dan motivasi yang takada habisnya untuk setiap perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual, untuk setiap kalian yang berjuang melawan stigma dan trauma, untuk setiap perempuan yang selalu mengadvokasikan perempuan-perempuan lain yang mencari keadilan, mencari bantuan, mencari haknya.

Perempuan dan laki-laki sama-sama berperan, kita sebagai subjek peradaban. Kita sama-sama ikut andil dalam memajukan bangsa ini. Jangan lagi berasumsi bahwa “ini masalah perempuan jadi biarlah perempuan yang menyelesaikannya”. Ayo bersuara. Ayo berani. Melawan pelecehan harus menjadi kesadaran kita bersama, harus terus di gaungkan agar kebebasan sadar mereka bisa dilawan oleh orang lain. Mari saling membangun kemitraan, jangan lagi saling salah menyalahkan. Meski kita perempuan jarang di-empu-kan, terlalu banyak perih yang kita tanggung. Puan kalian luar biasa, semoga perempuan Indonesia tetap terus menjadi figur yang kuat. Anda tidak sendirian. Kita Bisa Jika Bersama.

HIDUP MAHASISWA!
HIDUP RAKYAT INDONESIA!
HIDUP PEREMPUAN INDONESIA!

Muhammad Hanafi (Vice President ASEAN Muslim Students Association/AMSA Indonesia) menanggapi "Pesan penting untuk perempuan Indonesia. itulah kalimat yang pas untuk mengomentari tulisan ini, artikel ini harus dibaca bagi seluruh perempuan Indonesia, sebagai penerus dan yang akan melahirkan para penerus bangsa".(*)

Tag :

#HMI FKM UIN-SU Medan #AMSA Indonesia