lainnya inspiring

Viral Bocah Badut Jalanan di Banjarmasin, Ortunya Kaget Terima Duit Segepok dari Ketum BPP HIPMI

penulis: Admin | 28 August 2020 12:02 WIB
editor:


Kalsel, KejarFakta.co - Mata berkaca-kaca tak dapat disembunyikan Wahidah Ariani (41), ibu kandung dari Raihan Aditia (9), si bocah badut yang kerap menyapa para pengendara di Jalan Gatot Subroto, Banjarmasin, sepanjang hari.

Tangannya pun sampai bergetar. Lantaran, tak menyangka, bakal mendapat bantuan segepok uang senilai Rp10 juta, dari Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Mardani H Maming (MHM).

Dia tak tahu, jika anak bungsunya viral di dunia maya. Lantaran, salah satu akun yang mengisahkan keseharian Raihan ada di Instagram @damkarpunasakti.

Akun itu menulis, perjuangan anak laki-laki mengais rezeki dengan memaki pakaian badut di pinggir jalan saat pandemi Covid-19.

Bermotif ekonomi keluarga, Raihan rela berdiri berjam-jam, menantikan rezeki di pinggir jalan. “Masih sekolah. Mau membantu mama,” katanya lirih.

Aktivitasnya itu, sudah dilakoni sejak Covid-19 menyerang Kota Banjarmasin. Ekonomi yang pas-pasan membuat Raihan terpaksa turun ke jalan membantu orang tuanya.

Kisah bocah badut jalanan itu rupanya sampai ke telinga Ketum BPP HIPMI, Mardani H Maming.

Mardani melalui Wakil Ketua DPRD Kalsel, Muhammad Syaripuddin langsung bergerak menggali informasi itu berniat menyerahkan bantuan uang tersebut.

“Bantuan ini mudah-mudahan bisa di manfaatkan. Yang penting,Raihan bisa sekolah,” Wakil ketua DPRD Kalsel M Syaripuddin di Wakili Wakil Ketua Bidang Organisasi, DPD PDI Perjuangan Kalsel, Fazlur Rahman.

Bantuan itu diharap bisa menjadi modal untuk Raihan supaya tak lagi turun kejalan dan fokus untuk belajar.

Sore Senja Bersama Bocah

Dalam postingannya @damkarpurnasakti, Rabu (26/8), mengunggah foto Raihan lagi termenung. Dengan memakai kostum badut, Raihan nampak kecapekan hingga melepas bagian kepala badut.

“Setiap hari, Rehan harus bangun pagi-pagi betul agar atraksinya bisa disaksikan oleh para pekerja kantoran dan warga di sekitar Jalan Gatot Subroto,” tulis akun tersebut.

Bagi sebagian orang, atraksi badut jalanan yang disuguhkan Rehan dinilai ampuh untuk mengusir rasa suntuk di tengah padatnya Jalan Gatot Subroto.

“Namun, ada beberapa hal penting yang luput dari pikiran mereka. Pertunjukkan yang mereka anggap menarik itu sebetulnya dilakukan oleh anak di bawah umur, bahkan termasuk dalam kategori eksploitasi anak,” lanjut postingan itu.

Menurut pengakuan Rehan, keputusannya menjadi Badut jalanan didasari oleh motif ekonomi agar ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibunya yang bekerja serabutan hanya mampu mengumpulkan uang untuk membayar biaya sewa kontrakan. Jika ada rejeki berlebih, uang tersebut sengaja disisihkan untuk biaya sekolahnya.

“Uangnya lumayan. Bisa buat beli Nasi bungkus untuk dibawa pulang ke rumah,” tutur Rehan dikutip dari akun tersebut.

Agar atraksinya menarik perhatian banyak orang, Rehan memperlihatkan jogetan kecilnya.

Masih dalam postingan itu, disebutkan untuk urusan kostum dan kepala boneka, Rehan mengaku selalu mengganti kostumnya setiap hari. Sang penyedia kostum juga menyediakan beberapa pilihan kepala boneka yang didesain menyerupai tokoh-tokoh kartun, mulai dari Dora the Explorer, Upin dan Ipin, hingga Spongebob Squarepants.

“Kepala dan bajunya saya sewa. Saya tidak tahu biayanya, karena ibu yang membayar,” ungkap Rehan sembari menyeka keringat yang menetes di kelopak matanya.

Setiap hari Rehan memang sengaja berangkat pagi-pagi buta, bahkan sebelum mentari pagi bersinar. Selain mengincar mobil-mobil yang terjebak macet, ia ingin menyisihkan waktu di sore hari untuk bermain bola di rumah.

“Lepas Salat Isya saya biasanya langsung pulang ke rumah bersama ibu setelah ibu selesai beberes kebersihan halaman Alfamart Jl Gatot subroto,” kata Rehan.

Namun saat ditanya, apakah ia dan ibunya nyaman dengan profesi mereka saat ini, Rehan mengaku senang dapat membantu memberikan uang tambahan kepada ibunya.

Kendati demikian, Rehan tidak memungkiri bahwa terkadang ia merasa lelah karena harus berjalan hingga sejauh 10 km dari rumahnya.

Demikian cerita Raihan hingga mendapat beragam respon dari nitizien. Sampai-sampai mengundang perhatian Mardani H Maming dan wakil rakyat fraksi PDIP di DPRD Kalsel. (*)

 

Tag :

#Kalsel #BPP HIPMI