lainnya inspiring

Efek Ruang Ber-AC Terhadap Potensi Transmisi COVID-19

penulis: Admin | 27 July 2020 14:16 WIB
editor:


KejarFakta.co - Saat ini, dunia sedang mengalami kejadian pandemi akibat penyakit pneumonia yang disebabkan oleh virus. Virus tersebut adalah virus corona yang merupakan kelompok virus Ribonucleic Acid (RNA) dan termasuk ke dalam sub-grup β corona virus. Ukuran virus corona tersebut sangat kecil (dalam ukuran mikron) sehingga tidak mampu dilihat dengan menggunakan mata telanjang sehingga untuk melihat virus tersebut harus menggunakan alat yang disebut mikroskop elektron.

COVID-19 semula bernama novel corona virus disease-19 (nCoV-19) yang kemudian berganti nama menjadi Coronavirus disease-19 (COVID-19). COVID-19 pertama kali muncul dan merebak di Kota Wuhan, Hubei Ibukota China, seperti yang kita ketahui bahwa di Kota Wuhan tersebut merupakan live seafood market yang menjual berbagai macam makanan yang berbahan dasar kelelawar, trenggiling, musang, ular, dan lain-lainnya.

Analisis yang dilakukan di laboratorium dan berdasarkan pohon virus selanjutnya menemukan bahwa COVID-19 berasal dari virus corona yang sebelumnya telah tiga kali menimbulkan pandemi. Pandemi tersebut terjadi pada tahun 2003 dalam bentuk Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-1 (SARS-CoV 1) yang muncul di Kota Guangdong, China dan pada tahun 2013 dalam bentuk Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV).

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa terdapat kesamaan di antara ketiga jenis virus, yaitu: sama-sama merupakan jenis corona virus, tepatnya golongan β-coronavirus. Para Ahli Virus Dunia (International Committee on Taxonomy of Viruses) atau ICTV selanjutnya melakukan analisis lebih dalam antara hubungan di antara ketiganya melalui analisis terhadap pohon virus, dan hasilnya adalah COVID-19 memiliki indeks kemiripan dengan kedua jenis virus (SARS-CoV 1 dan MERS-CoV) dengan indeks kemiripan antara COVID-19 dengan SARS-CoV 1 adalah 88% dan indeks kemiripan dengan MERS-CoV adalah 50%. Oleh karena itu, COVID-19 juga disebut sebagai Severe Acute Respiratory Disease Coronavirus-2 (SARS-CoV 2).

Pola infeksi akibat SARS-CoV 1, MERS-CoV, dan SARS-CoV 2 adalah pola infeksi zoonotik yang mana infeksi ditularkan dari hewan ke manusia dengan hewan yang menjadi hewan inang utama adalah hewan kelelawar dan hewan intermediet inang untuk SARS-CoV 2 adalah golongan pangolin (trenggiling). Kaitan lain antara SARS-CoV 1 dan SARS-CoV 2 adalah berdasarkan jenis virus di mana kedua jenis virus tersebut adalah golongan virus RNA dan seperti yang kita ketahui bahwa RNA virus adalah virus yang mudah sekali mengalami mutasi (perubahan bentuk).

Laju transmisi COVID-19 menurut World Health Organization (WHO) ditentukan berdasarkan nilai dari Reproductive Number (Ro), dengan nilai Ro adalah 2,2 yang mengisyaratkan bahwa satu penderita COVID-19 dapat menularkan penyakitnya kepada 2,2 orang, dan hal tersebut untuk proses penularan selanjutnya dapat dihitung dengan menggunakan pola konsep eksponensial yang selanjutnya dapat mengakibatkan ledakan jumlah penderita COVID-19.

Yang menarik daripada penderita COVID-19 adalah penderita COVID-19 dikelompokkan ke dalam empat kategori yang berbeda, yaitu kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang saat ini berganti menjadi kasus suspek, kategori Pasien Dalam Pemantauan (PDP) yang saat ini berganti menjadi kasus probabel, kategori Orang Tanpa Gejala (OTG), dan kategori terkonfirmasi positif.

Fenomena yang ditakuti oleh sebagian orang adalah munculnya fenomena OTG yang mana pada OTG tersebut sesungguhnya merupakan carier COVID-19. Sistem kekebalan tubuh OTG sangatlah kuat sehingga COVID-19 tidak dapat menimbulkan gejala namun sistem kekebalan yang kuat itu bersifat individual sehingga setiap orang yang berada di dekatnya jika kekebalan tubuh orang tersebut rendah maka akan rentan untuk tertular oleh COVID-19.

Kembali ke persoalan efek ruang ber-AC terhadap transmisi COVID-19. Dewasa ini, WHO telah menyatakan bahwa transmisi COVID-19 melalui airborne di mana maksud dari airborne adalah proses transmisi yang berhubungan dengan droplet, bioaerosol, splatter, dan droplet nuclei yang umum dikeluarkan oleh seseorang walaupun orang tersebut dalam keadaan sehat. Kesemua jenis droplet tersebut yang menjadi dasar dikeluarkanya konsep physical-social distancing (konsep jaga jarak) dan menggunakan masker. Kedua konsep tersebut berguna untuk meminimalisir transmisi COVID-19 dari satu orang ke orang lain.

Terutama untuk konsep penularan COVID-19 melalui airborne ini penting untuk diketahui oleh orang atau karyawan yang bekerja di kantor yang menggunakan Air Conditioner (AC). Terdapat suatu jurnal yang mengatakan bahwa pola transmisi COVID-19 melalui airborne dapat diperparah dengan adanya ruang udara yang ber-AC yang disebabkan oleh situasi udara di ruangan ber-AC adalah sirkulasi yang begitu terus dan tidak terdapat intervensi dari sirkulasi udara luar.

Sehingga sangat disarankan, bahwa ketika berada di tempat yang ber-AC hendaknya selalu tetap masif menggunakan masker dan menjaga jarak serta menghindari langsung arahan AC tersebut ke kita. Apalagi di dalam ruang ber-AC tersebut sangat erat sekali kontak antara satu orang dengan orang lain yang dikenal dengan sebutan built environments (BEs) di mana teori tersebut menyatakan bahwa terdapat interaksi antara manusia dengan lingkungan yang ada di sekitarnya, yang dapat terdiri dari lingkungan biotik dan abiotik. COVID-19 dapat berada pada permukaan benda, yang merupakan lingkungan abiotik (seperti di permukaan meja, tembaga, kayu, plastik) dalam waktu yang cukup lama.

Hal tersebut justru mendukung teori keparahan sirkulasi udara yang terdapat pada ruangan yang ber-AC terhadap transmisi COVID-19. Sehingga diharapkan kepada para orang yang berada di dalam ruangan yang ber-AC untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan secara ketat untuk menghindari terjadinya transmisi COVID-19 yang justru semakin mudah di dalam ruangan ber-AC.

Semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhir dan vaksin untuk COVID-19 semoga segera cepat ditemukan sehingga kita dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Salam sehat.

Oleh : Fery Setiawan, drg
Kandidat Magister Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Tag :

#Covid-19 #Ruang Ber-AC