lainnya inspiring

Manusia Pancasila di Era New Mormal

penulis: Admin | 8 June 2020 08:56 WIB
editor:


Inggar Saputra
Inggar Saputra

KejarFakta.co - Keputusan Presiden Jokowi yang memilih berdamai dengan virus Corona merupakan keputusan yang bijaksana dan tepat. Ini mengingat, terus terjebak dalam lingkaran pandemi Corona, justru akan mematikan perekonomian nasional. Padahal hidup harus terus berjalan, dan manusia Indonesia harus mempertahankan kehidupannya dengan aktif menggerakkan perekonomian.

Memilih kebijakan menormalkan kehidupan dengan tetap mengacu kepada protokol kesehatan sudah merupakan pilihan rasional. Jangan sampai pertimbangan angka positif yang terus naik justru melumpuhkan perjalanan bangsa ini ke depan. Justru upaya berdamai dengan Corona yang dikumandangkan Presiden dinilai sebagai jalan tengah agar kebijakan kesehatan dan ekonomi berjalan seimbang sehingga kehidupan masyarakat dapat terus berjalan di masa mendatang.
 
Di era new normal ini, selain menguatkan rakyat akan protokol kesehatan, pemerintah juga harus memperhatikan Pancasila sebagai acuan rakyat dalam berkata dan bertindak. Jika kita mengamati, Pancasila merupakan konsep universal yang selalu mampu menemukan relevansinya dalam perkembangan zaman.

Kita amati misalnya sila pertama, kebebasan beribadah dan dibukanya tempat ibadah harus menjadi perhatian pemerintah. Selama tiga bulan menyebarnya virus Corona, pemerintah mengambil kebijakan beribadah dari rumah dengan pertimbangan kesehatan. Sekarang momentum yang tepat untuk mencabut kebijakan tersebut, mengingat kondisi sudah normal. Tentu pembukaan dan kebebasan beribadah harus tetap mengacu kepada protokol kesehatan sebagai bentuk antisipasi agar tidak adanya gelombang kedua dari pandemI Covid-19.
 
Persoalan kemanusiaan yang berorientasi keadilan dan keadaban tentu menjadi pertimbangan pemerintah, dalam menerapkan kebijakan new normal. Ini mengingat betapa terpukulnya perekonomian nasional selama pandemi yang berlangsung tiga bulan ini. Maraknya Pemecatan Hubungan Kerja (PHK), berkurangnya daya beli masyarakat, sempat melemahnya rupiah, berkurangnya pendapatan pekerja informal dan masyarakat menengah ke bawah membuat ancaman krisis ekonomi terbentang di depan mata.

Buruknya ekonomi membuat rasa kemanusiaan kita terusik, sehingga penting sekali mengkompromikan kepentingan kesehatan dengan perbaikan ekonomi rakyat. Jangan sampai terlalu fokus penanganan masalah Corona mengabaikan sifat humanisme bahwa rakyat harus tetap mempertahankan kehidupannya dengan tercukupinya kebutuhan pangan.
 
Diakui, kepentingan nasional dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa harus menjadi perhatian bersama di era new normal. Adanya sikap kritis dari beberapa kalangan masyarakat terhadap kebijakan new normal harus tetap mengacu kepada solusi nyata, agar justru tidak terjadi polarisasi yang kacau di masyarakat. Pembelahan saat Pemilihan Presiden 2019 harus menjadi pelajaran dan tidak boleh terulang.

Mengkritik pemerintah dijamin negara dan konstitusi, tapi jangan sampai menciptakan disharmonisasi di masyarakat. Kritik yang disampaikan secara terbuka harus mampu mendorong kebijakan new normal agar kelemahannya dapat ditutupi dan menciptakan integrasi dalam tubuh masyarakat menuju Indonesia yang lebih baik. Upaya menjaga keharmonian bangsa harus menjadi prioritas di tengah upaya pemerintah membangkitkan kembali situasi abnormal yang sempat melanda bangsa Indonesia belakangan ini.
 
Spirit yang sangat terasa ketika pandemi Covid-19 adalah bergotong royong dan musyawarah mufakat sebagai jalan terbaik menyelesaikan persoalan serius bangsa Indonesia sejak dulu. Dengan semangat gotong royong, kita melihat di masyarakat bagaimana donasi, bantuan tunai maupun sembako mengalir kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Solidaritas sosial sesama anak bangsa terjadi tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku dan agama. Mereka yang kekurangan selain mendapatkan bantuan dari pemerintah, juga dari kalangan lembaga sosial, elemen masyarakat sipil dan donasi dari berbagai kalangan yang terpanggil saling membantu sesama.

Ini merupakan modal sosial yang berharga dan harus tetap dipertahankan saat kebijakan new normal berlangsung sehingga menghasilkan masyarakat yang saling bergotong royong dengan keterikatan sosial antar anggota masyarakat yang solid dan kuat.
 
Tujuan bernegara yang diciptakan pendiri bangsa sejak merdeka adalah terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Manusia Pancasilais harus adil secara pikiran dan tindakan baik secara individu maupun sosial. Kemampuan adil termasuk di dalamnya bagaimana menilai secara adil bahwa new normal menjadi bagian keseimbangan kepentingan kesehatan dengan ekonomi, politik, budaya, pertahanan keamanan dan lainnya.

Pemerintah ingin mendorong bagaimana pemerataan, pertumbuhan dan aktivitas perekonomian kembali berjalan dengan kondisi normal dengan tetap mengacu kepada aturan kesehatan. Jika prakteknya masih ada kekurangan, maka tugas kita bersama untuk bergandengan tangan dengan saling mengingatkan mereka yang masih melakukan pelanggaran protokol kesehatan.

Tak ada kesempurnaan dalam sebuah kebijakan publik, tetapi keinginan untuk memulai sebuah kebijakan merupakan sebuah keharusan agar kita dapat terus bangkit dari keterpurukan yang ada.
 
Inggar Saputra: Pengajar Pancasila Universitas Jakarta dan Universitas Mercubuana, Penggiat Rumah Produktif Indonesia dan Indonesia Juara Emas Jakarta

Tag :

#Manusia Pancasila #New Normal