lainnya data

Pegiat Desa Ikut Benchmarking II Tiongkok-India, Sekjen Kemendes PDTT : Kerjakan yang Terbaik !

penulis: Admin | 7 September 2019 17:44 WIB
editor:


Para peserta Benchmarking Batch II ke Tiongkok dan India dilepas oleh Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo di Jakarta, Senin (2/9/2019). Wening | Kemendes PDTT
Para peserta Benchmarking Batch II ke Tiongkok dan India dilepas oleh Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo di Jakarta, Senin (2/9/2019). Wening | Kemendes PDTT

Jakarta, Kejarfakta.co -- Kabar desa cukup viral pekan ini ialah keberangkatan peserta Benchmarking Batch II, program kunjung lapang dalam rangka peningkatan sumber daya manusia di desa Indonesia, terdiri dari kepala desa/kades, penggiat desa, dan pendamping desa asal dari 29 kabupaten di 17 provinsi ke Tiongkok dan India, Senin (2/9/2019) lalu.

Adalah Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo yang melepas langsung ke-40 peserta --34 laki-laki dan 6 perempuan, dari kantor Kemendesa PDTT, Jakarta, yang terselenggara berkat hubungan bilateral erat dengan kedua negara.

Dalam siaran pers yang diterima redaksi awal pekan ini, Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi merincikan 17 provinsi asal peserta. Yaitu Sumatra Utara, Riau, Jambi, Banten, Jabar, DI Yogyakarta, Jateng, Jatim, Bali, NTB, NTT, Kalsel, Kalbar, Gorontalo, Sulteng, Sulsel, dan Maluku Utara.

Untuk 17 hari benchmarking di Tiongkok (3-18 September 2019), diikuti 26 peserta dari desa didampingi 4 pejabat Kemendes PDTT, serta 2 orang dari Kedutaan Besar (Kedubes) Tiongkok di Indonesia, terlaksana berkat kerja sama dengan Kedubes Republik Rakyat Tiongkok, dan Kementerian Pertanian dan Perdesaan Tiongkok.

Minister Counsellor for Economic and Commercial Affairs, Embassy of China Wang Liping, Senin lalu, mengatakan 'exciting' bisa memberangkatkan kepala desa ke Tiongkok. Kata Wang, kesuksesan Benchmarking Batch II terkait dengan perhatian langsung Mendes PDTT dan Dubes Tiongkok di Indonesia.

“Benchmarking ini akan kunjungi empat kota di Tiongkok yaitu Beijing, Huzhou, Hangzhou, dan Shanghai. Ada pusat politik, kebudayaan, ekonomi. Nanti akan belajar di kota Huzhou tempat dimana reformasi perdesaan di Tiongkok bermula, kota ini merupakan desa paling kaya. Di sana akan ada simposium antar BUMDes, kerja sama agrikultur, pengolahan makanan dan lain-lain,” ujar dia.

Kekayaan suatu negara, ungkap Wang, ditentukan dari kekayaan dan kestabilan perdesaan. Ke depan, ia berharap investasi pertanian-perdesaan jadi hal yang penting.

“Para peserta, saya harap perjalanan kalian berhasil sehingga menjadi pembaharu untuk pengembangan desa kalian masing-masing dan kerjasama dengan Tiongkok. Selamat belajar dan benar-benar berhasil, saya akan menemani sepanjang perjalanan,” pesannya.

Sementara, pelatihan benchmarking di India dilaksanakan 14 hari (2-15 September 2019) di National Institue of Rural Development, Hyderabad. Peserta 14 orang dari desa dan 4 pejabat pendamping dari Kemendesa PDTT, terselenggara berkat kerja sama apik dengan Kedutaan Besar India di Indonesia dan India Technical Coperation (ITEC).

Minister Counsellor for Economic and Commercial Affairs, Embassy of India V. Narayanan menerangkan, sejak dimulai kali pertama pada 1964, program ITEC bertujuan untuk jadi ajang berbagi pengalaman baik dan kisah sukses (best practices) dari India ke negara sahabat. Tercatat, 1.300 orang dari Indonesia telah mengikuti program ini.

Program bertujuan memahami berbagai metode terapan Pemerintah India dalam pembangunan perdesaan yang dimulai dari bawah, dengan menyaksikan langsung kisah sukses yang ada di desa.

“Nanti para peserta akan mengunjungi salah satu negara bagian, dimana ada kelompok pemberdayaan perempuan terbesar. Saya sangat berharap program ini membantu meningkatkan wawasan peserta. Yang lebih penting lagi pertukaran yang terjadi, agar kepala desa yang pergi ke India dapat juga membagi yang ada di desanya, sehingga kami juga dapat belajar dari desa-desa yang ada di Indonesia,” tuturnya.

Satu semangat, Sekjen Kemendesa PDTT Anwar Sanusi berharap peserta melakukan yang terbaik. “Kerjakan yang terbaik, karena itu menentukan keberlanjutan program-program ke India,” ujar alumnus FISIPOL UGM penyuka Wedang Ronde ini.

Adapun, imbuh Anwar, tema-tema yang akan dipelajari di kedua negara yaitu kebijakan pembangunan desa, kebijakan pengentasan kemiskinan, pengembangan desa wisata (village tourism), pengembangan desa digital (e-village), kewirausahaan, pengolahan hasil produksi pertanian dan pertukaran budaya.

Terkait format benchmarking yang dilakukan, merupakan kombinasi antara pembelajaran kelas, diskusi, dan melihat langsung di lapangan, serta berinteraksi dengan pelaku-pelaku pembangunan perdesaan dua negara.

Seluruh pembiayaan kegiatan gelombang ke-2 ini bersumber dari Pemerintah Tiongkok dan Pemerintah India. "Kami mengucapkan terima kasih pada Kedutaan Besar Tiongkok dan India untuk Indonesia," kata dia.

Apa yang diharapkan dari benchmarking ini? Yakni agar dapat meningkatkan kompetensi kepala desa, penggiat desa, dan pendamping desa dalam pengelolaan dan pembangunan desa, memunculkan inovasi pengelolaan dan pembangunan desa, serta membangun jaringan pengetahuan dan membuka pasar antar kepala desa, penggiat desa, dan pendamping desa dengan mitra luar negeri. [red/rls/Muzzamil]

Tag :

#Sekjen Kemendes PDTT #Jakarata #Mendes PDTT