entertainment buku

Hak Anak di Mata Media

penulis: Admin | 22 September 2020 18:08 WIB
editor: admin


Abdul Manan, (Ketua Umum AJI Indonesia)

KejarFakta.co - “Ada yang berubah, ada yang bertahan. Karena zaman tak bisa dilawan. Yang pasti kepercayaan harus diperjuangkan".

Seuntai kalimat dari Chairil Anwar yang selalu terlintas di benak saat berpikir tentang perubahan, sebuah proses yang terus terjadi sejak semesta tercipta. Terkadang, perubahan sulit dilawan, beberapa bahkan tidak mungkin. Kita bisa menyesuaikan diri agar tetap bisa bertahan dan juga berkembang seiring perubahan zaman.

Media massa termasuk industri yang dituntut untuk bisa beradaptasi dengan teknologi yang mempengaruhi cara publik mendapatkan dan mengonsumsi informasi. Selama beberapa tahun mengelola dan menjadi anggota panel juri Media Awards AJI-UNICEF, berdasarkan karya-karya yang kami nilai, kami melihat ada peningkatan tetapi ada juga stagnasi dalam sisi kualitas dan keragaman topik pemberitaan mengenai hak-hak anak yang dipilih oleh peserta.

Dari semua kategori, kami melihat peningkatan jumlah karya yang lolos seleksi dan ada beberapa karya dari televisi, radio, cetak dan online yang mengagumkan. Ada sejumlah karya televisi yang luar biasa, dengan memadukan riset luas, peliputan lapangan, hingga eksekusi narasi dan visual yang kuat.

Kerja keras tim produksi. Namun tidak sedikit juga karya yang terkesan digarap dengan terburu-buru atau tulisan panjang minim analisis. Sejatinya, mengutip Rosihan Anwar, adalah vital bagi wartawan untuk mengetahui sesuatu secara baik.

Menggali ke dalam suatu masalah untuk menemukan rangkaian hubungan dengan bidang-bidang lain karena hubungan-hubungan itulah mungkin yang paling penting bagi wartawan untuk dimengerti.

Catatan kami dari kategori radio sangat menggembirakan mengetahui bahwa pemberitaan informasi dalam bentuk suara lembaga yang punya kepedulian soal anak, termasuk UNICEF. Melalui kerjasama ini, dengan berbagai bentuk kegiatan, diharapkan dapat menjawab sejumlah kritik terhadap jurnalis dan media dalam berhubungan dengan topik anak.

Melalui kegiatan workshop diharapkan ada peningkatan pengetahuan, bertambahnya keterampilan, dan membaiknya sudut pandang dalam liputan tentang anak. Selain ada kebutuhan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, kerjasama yang dilakukan AJI juga diharapkan bisa membuat tema anak menjadi perhatian publik dan jadi pertimbangan pemerintah dalam membuat kebijakan.

Salah satu upaya untuk itulah AJI dan UNICEF menggelar kompetisi jurnalistik. Tahun ini, yang durasi penerimaan karyanya mulai Desember 2019 - 29 Februari 2020, ada 413 karya yang masuk untuk empat kategori: cetak/online, foto, radio dan TV.

Setelah melalui proses penilaian, ada empat yang ditetapkan sebagai pemenang, yang hasilnya diumumkan 29 April 2020 lalu. Pemenangnya masing-masing: Erick Tanjung (Suara.com), melalui liputan berjudul “Terancam Hukuman Mati, Kejanggalan Peradilan Bagi Mispo Si Anak Papua untuk kategori cetak/online; Tim KBR, dengan judul karya “Hidup Usai Teror Episode 1-8” untuk kategori radio; Miftah Faridl dan Priyuda Anangga D (CNN Indonesia TV), melalui judul karya “Anakku Tidak akan Jadi Teroris” untuk kategori TV; foto Ignas Kunda (Media Indonesia), dengan judul karya “Perjuangan Warga Kampung Wololuba Demi Air Keruh”, untuk kategori foto.Erick Tanjung dalam karyanya menulis kisah Mispo Gwijangge, anak Papua yang diadili di Jakarta Pusat atas tuduhan keterlibatannya dalam peristiwa pembunuhan pekerja PT Istaka Karya di area proyek Jalan Trans. Ignas Kunda menang untuk foto perjuangan warga Kampung Wololuba untuk mendapatkan air. Miftah Farid dan Tim KBR mengangkat tema soal dampak terorisme terhadap anak-anak.

AJI berharap kompetisi ini bisa mendorong jurnalis untuk memiliki kepedulian lebih besar soal tema anak. Dan karya yang menang kompetisi ini, yang dibukukan dan kini di tangan Anda ini, diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi jurnalis lain untuk membuat liputan serupa atau mengangkat topik - topik menarik lain soal anak.(*)

Tag :

#AJI #UNICEF